Situs Dosen STKIP Siliwangi Bandung - Ansori AL-B, S.Pd, M.Pd

Artikel Umum

MENJADI MANUSIA PEMBELAJAR

Dipublikasikan pada : 1 Oktober 2015. Kategori : .

Di masa lalu kita mampu menangani dan mengatasi perubahan dengan lebih mudah karena kita dapat memprediksi siklusnya. Situasi sekarang ini sangat mengganggu bagi orang-orang yang menggunakan cara-cara masa lalu, pola pikir masa lalu yang sudah tidak sesuai lagi untuk mengatasi masalah saat ini. Saat ini merupakan era yang berbeda yang menuntut pola pikir yang berbeda (different times produce different minds). Masalahnya adalah perubahan dalam pola pikir ini terjadi karena terpaksa ataukah karena memang kita sudah menyadari dan mengantisipasinya. Hal ini akan memberikan dampak yang jelas berbeda.

Tantangan lain yang perlu dipahami juga adalah tanpa disadari banyak dari kita yang terjebak dalam “budaya rame-rame” (crowd culture). Media mendorong kita untuk membangun pikiran atau ide yang sama. Banyak dari kita yang tidak tahu lagi cara berpikir untuk diri kita sendiri.

Memasuki abad ke-21 ini terlihat jelas berkembangnya tuntutan baru yang harus mampu dijawab agar setiap organisasi dapat tetap hidup dan berkembang. Tuntutan baru tersebut berupa harus dimilikinya modal kecerdasan (intellligence capital) sebagai sumber daya saing organisasi. Kecerdasan yang dimaksud adalah gabungan dari semua kecerdasan yang ada pada manusia. Mengacu pada Danah Zohar dan Ian marshal (2000) membagi kecerdasan manusia dalam tiga jenis kecerdasan, yaitu Kecerdasan Intelektual (IQ), Kecerdasan Emosional (EQ), dan Kecerdasan Spiritual (SQ). Setiap organisasi harus mampu menjadi organisasi yang cerdas (smart/intelligent organization).

Organisasi dari berbagai skala dan bentuk, termasuk negara yang hanya mampu mengakuisisi pengetahuan saja (knowledge-based organization) sudah tidak cukup lagi. Artinya tidak cukup untuk membuat organisasi tersebut menjadi pemenang dalam persaingan dewasa ini. Tuntutan masa sekarang adalah Organisasi yang Menciptakan Pengetahuan (knowledge-creating organization) dan hanya organisasi yang cerdas yang akan mampu untuk itu. Mereka yang hanya mengakuisisi pengetahuan akan selalu tertinggal dibandingkan mereka yang mampu mengembangkan/menciptakan pengetahuan.

Menghadapi tuntutan-tuntutan di atas, manusia masa kini perlu untuk memahami bagaimana menjadi manusia yang terus belajar dan menjadi cerdas. Dengan kata lain, kita perlu untuk menjadi manusia pembelajar sepanjang hidup kita untuk bisa menjadi unggul di era sekarang ini. Dan, dengan begitu, kita dapat berkontribusi dalam membentuk organisasi yang mampu menciptakan/mengembangkan pengetahuan. Cara untuk menjadi manusia pembelajar, di antaranya, adalah dengan memahami dan mengimplementasikan konsep belajar sebagai hasil dan konsep belajar sebagai hasil. Setelah mengimplementasikan sendiri konsep-konsep ini, kita bisa lihat, menjadi manusia pembelajar itu ternyata sangatlah menyenangkan.

Wallahu a’lam……